Balai Perhutanan Sosial (PS) Palembang terus mendorong peningkatan nilai tambah hasil hutan bukan kayu (HHBK) melalui pengembangan produk berbasis potensi lokal. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Pembuatan Salep Obat Luka Berbahan Aktif Ekstrak Resin Jernang yang diselenggarakan di Desa Tanjung Agung, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Rabu (1/7).

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi kerja sama hibah AFoCO/035/2022 bertema Improved Local Community Livelihood through Increased Income from Non-Timber Forest Products (NTFP): Modeling Scalable Community-Based Enterprise in Asia, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu.

Pelatihan diikuti oleh anggota KTH Jernang Lestari, KUPS Jernang Mandiri, KUPS Perempuan Muara Jaya, LPDH Desa Tanjung Agung, Karang Taruna, perangkat desa, serta masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan dan pemanfaatan resin jernang.

Resin jernang atau yang dikenal di dunia perdagangan sebagai dragon's blood memiliki kandungan senyawa antibakteri, antioksidan, dan flavonoid yang berpotensi mendukung proses penyembuhan luka. Kandungan tersebut berfungsi membantu mencegah infeksi bakteri, meredakan peradangan, serta merangsang regenerasi jaringan kulit.

Dalam pelatihan tersebut, dua orang Penyuluh Kehutanan Balai PS Palembang, Sahwalita dan Nanang Herdiana, memberikan materi mengenai potensi resin jernang sebagai bahan baku obat herbal sekaligus memandu peserta melakukan praktik langsung pembuatan salep berbahan aktif ekstrak resin jernang.

Narasumber menjelaskan bahwa meningkatnya tren global back to nature membuka peluang pengembangan obat herbal berbahan alami. Kondisi tersebut turut mendorong meningkatnya permintaan terhadap Obat Herbal Terstandar (OHT) sebagai alternatif pengobatan yang aman dan memiliki nilai ekonomi.

Pada kesempatan itu juga disampaikan bahwa ekstrak resin jernang efektif digunakan untuk membantu penanganan luka terbuka atau sayatan, luka bakar ringan, hingga luka kronis seperti luka akibat diabetes. Berdasarkan hasil penelitian yang dipaparkan, penggunaan ekstrak resin jernang dengan konsentrasi 10 persen mampu membantu proses penutupan luka dalam waktu sekitar delapan hari, lebih cepat dibandingkan penggunaan povidone yang memerlukan waktu sekitar dua belas hari.

Selain memperoleh materi teori, peserta juga mengikuti praktik mulai dari proses pencampuran bahan, pemanasan, pengadukan, hingga pengemasan salep. Kegiatan praktik ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk mengembangkan produk turunan berbasis resin jernang yang memiliki nilai tambah ekonomi.

Melalui pelatihan ini, Balai PS Palembang berharap masyarakat semakin memahami potensi resin jernang sebagai komoditas hasil hutan bukan kayu yang dapat dikembangkan menjadi produk kesehatan berbasis herbal. Di sisi lain, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat kapasitas kelembagaan kelompok masyarakat dalam mengembangkan usaha HHBK secara berkelanjutan, sekaligus mendorong pemanfaatan resin jernang untuk mendukung kesehatan masyarakat.